Universitas Gadjah Mada Pharmacious
  • Home
  • Kompetisi
    • Industrial Case Competition
    • 3 Minute Presentation
    • National Debate Competition
  • Seminar
  • Ciouspedia
    • [Ciouspedia] Yuk, Kenal Lebih Dekat dengan Precision Medicine
    • [Ciouspedia] 3MP not MP3: Brand New Competicious!
  • Beranda
  • Pharmacious 2021
  • Ciouspedia 2021
  • Ciouspedia #4

Ciouspedia #4

  • Ciouspedia 2021, News, Pharmacious 2021
  • 6 June 2021, 19.00
  • Oleh: Adiba Citra Shaffiya Susanto
  • 0

[BIKIN OBAT CUMA PAKE SIMULASI KOMPUTER?!?]

 

Haloo, Ciouserss!

Kita jumpa lagi nih di Ciouspedia #4!

Kira-kira Ciouspedia #4 bakalan bahas apa nih, Ciousers?? Udah pada kepo, kan??

Kali ini kita bakal bahas sesuatu hal yang berkaitan dengan tema besar kita, nih! 

Yaitu penggunaan Artificial Intelligence, khususnya dalam drug discovery!

Yuk, kita simak pembahasannya!

 

Seiring berjalannya waktu, kebutuhan manusia akan teknologi menjadi semakin besar. Revolusi industri 4.0 telah menginvasi hampir seluruh aspek kehidupan manusia. Konsep berbasis Artificial Intelligence (AI) sebagai aktivator perindustrian mendorong perubahan berbagai negara untuk mempertahankan pilar perekonomian. Hal tersebut turut mempengaruhi berlangsungnya industri farmasi saat ini. 

Kecerdasan buatan atau Artificial Intelligence (AI) merupakan simulasi dari kecerdasan yang dimiliki oleh manusia yang dimodelkan di dalam mesin dan diprogram agar bisa berpikir seperti halnya manusia. Sementara itu, penemuan formula obat merupakan tantangan besar dalam industri farmasi dan membutuhkan waktu yang lama. Dengan menggunakan AI, banyak eksperimen dapat dilakukan dalam waktu yang lebih singkat karena AI dapat melakukan eksperimen yang sama persis dengan yang dilakukan peneliti hanya melalui simulasi komputer.

AI berperan dalam hampir semua tahapan penemuan obat, dari identifikasi sasaran untuk penemuan hingga optimasi uji praklinis maupun klinis. Contohnya yaitu CADD yang digunakan untuk pembuatan desain obat. CADD (Computer-Aided Design Drawing) merupakan salah satu perangkat lunak yang digunakan pengembang produk untuk membuat gambar 2D digital dan model 3D. 

Contoh lain dari penerapan AI yaitu sebagai deep learning untuk repurposing obat. Di area ini, komputasi bekerja mengidentifikasi potensi penggunaan baru dari obat-obatan yang sudah ada. Algoritma deep learning akan menguji teori-teori baru berdasarkan input yang tepat. Algoritma AI juga bisa mengidentifikasi molekul yang gagal di uji klinis, lalu memprediksi bagaimana senyawa yang sama itu dapat diaplikasikan untuk mengobati penyakit lainnya.

Selain itu, dalam dunia farmasi terdapat juga istilah chemical space, di mana di dalamnya adalah katalog berisi kurang lebih 1060 molekul yang berpotensi dikembangkan menjadi senyawa untuk obat-obatan baru. Dengan AI, perusahaan farmasi dapat membuat lebih sedikit molekul tapi dengan tingkat akurasi yang lebih tinggi. 

Salah satu hasil dari penerapan AI dalam penemuan obat yaitu PXT3003 yang ditemukan oleh perusahaan Biofarmasi Prancis Pharnext sebagai solusi dari penyakit neuropati Charcot-Marie-Tooth (CMT). Selain itu, penerapan lainnya juga terlihat pada AstraZeneca yang menggandeng startup biofarma Berg untuk mengembangkan biomarker dan obat penyakit saraf. 

 

Gimana nih, Ciousers??

Udah makin paham kan tentang peran Artificial Intelligence dalam penemuan obat? 

Pastinya, dong!

Simak terus update terbaru kita dalam Ciouspedia selanjutnya, ya!

See you guys! Selamat beraktivitas!!

 

DAFTAR PUSTAKA

Anonim, 2020, https://www.piranusa.com/cad-software/, diakses pada 2 Juni 2021 pukul 08.23 WIB.

Prukop, T., et al, 2019, Early short-term PXT3003 combinational therapy delays disease onset in a transgenic rat model of Charcot-Marie-Tooth disease 1A (CMT1A), PLoS ONE, 14(1), pp. 1–15. doi: 10.1371/journal.pone.0209752.

Ristanti, Yuni, 2015, http://ryunirschemistry.web.unej.ac.id/2015/05/19/6-proses-penemuan- obat-dan-kesimpulan/, diakses pada 2 Juni 2021 pukul 08.02 WIB.

Threestayanti, Liana, 2020, https://infokomputer.grid.id/read/122127921/contoh-penerapan- artificial-intelligence-di-bidang-farmasi-kesehatan?page=all, diakses pada 08.30 WIB.

Wahyudi, Kodrat, 2020, https://www.berca.co.id/2020/11/11/bagaimana-artificial-intelligence- mempercepat-dalam-penemuan-obat/, diakses pada 30 Mei 2021 pukul 09.15 WIB.

Tags: Pharmacious Pharmacy UGM

Leave A Comment Cancel reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

Universitas Gadjah Mada

PHARMACIOUS
LEARN, SHARE, IMPACT!

© Pharmanesia - Universitas Gadjah Mada

Media Partner

KEBIJAKAN PRIVASI/PRIVACY POLICY